Tuesday, April 24, 2018

ALAT BANTU/MEDIA DAN PERILAKU KESEHATAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya tersebut maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya pendidikan tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
Pendidikan kesehatan sebagai suatu proses di mana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Di dalam suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan yakni: perubahan perilaku, dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor yang mempengaruhi suatu proses pendidikan di samping faktor masukannya sendiri juga faktor metode, faktor materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya, dan alat bantu atau alat peraga pendidikan yang dipakai. Agar dicapai suatu hasil yang maksimal maka faktor-faktor tersebut harus bekerja sama secara haronis.

B.                 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan alat bantu ?
2.      Apa saja macam-macam alat bantu ?
3.      Apa manfaat alat bantu ?
4.      Apa kegunaan alat perga ?
5.      Apa yang dimaksud dengan media ?
6.      Bagaimana langkah-langkah penetapan media ?
7.      Apa fungsi dan manfaat media ?
8.      Apa saja macam-macam media ?
9.      Bagaimana konsep perilaku kesehatan ?

C.                Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian alat bantu
2.      Untuk mengetahui macam-macam alat bantu
3.      Untuk mengetahui manfaat alat bantu
4.      Untuk mengetahui kegunaan alat peraga
5.      Untuk mengetahui pengertian media
6.      Untuk mengetahui langkah-langkah penetapan media
7.      Untuk mengetahui fungsi dan manfaat media
8.      Untuk mengetahui macam-macam media
9.      Untuk mengetahui konsep perilaku kesehatan




BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pengertian Alat Bantu
Alat bantu pendidikan adalah suatu alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini sering disebut sebagai alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam proses pendidikan/pengajaran.
Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia diterima atau ditangkap melalui panca indra. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian/pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indra sebanyak mungkin kepada suatu objek, sehingga mempermudah pemahaman. Tetapi masing-masing alat bantu mempunyai intensitas yang berbeda-beda di dalam membantu permasalahan seseorang.
Dalam rangka promosi kesehatan, masyarakat sebagai consumer juga dapat dilibatkan dalam pembuatan alat peraga (alat bantu pendidikan). Untuk itu peran petugas kesehatan bukan hanya membimbing dan membina, dalam hal kesehatan mereka sendiri, tetapi jga memotifasi mereka sehingga meneruskan informasi kesehatan kepada anggota masyarakat yang lain.
Alat peraga akan sangat membantu dalam melakukan penyuluhan agar pesan-pesan kesehatn dapat disampaikan lebih jelas, dan masyarakat sasaran dapat  menerima pesan tersebut dengan jelas dan tepat pula. Dengan alat peraga orang dapat lebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit, sehingga mereka data menghargai betapa bernilainya kesehatan itu bagi kehidupan.

B.                 Macam- macam Alat Bantu
Alat peraga dibagi menjadi beberapa, diantaranya :
1.      Alat bantu lihat (visual aids). Alat bantu ini digunakan untuk membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :
a.       Alat yang diproyeksikan (misalnya, slide, OHP, dan film strip)
b.      Alat-alat yang tidak diproyeksikan (misalnya, 2 dimensi, gambar peta, dan bagan) termasuk alat bantu cetak atau tulis, misalnya leaflet, poster, lembar balik, dan buklet. Termasuk tiga dimensi seperti bola dunia dan boneka).
2.      Alat bantu dengar (audio aids), yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasikan indra pendengar pada waktu proses penyampaian bahan pendidikan/bahan pengajaran. Misalnya : piring hitam, radio, tape, dan CD.
3.      Alat bantu dengar dan lihat atau alat bantu yang lebih dkenal dengan Audio Visual Aids (AVA), seperti TV, film dan video.

C.                Manfaat Alat Bantu
Secara rinci, manfaat alat peraga adalah sebagai berikut.
1.        Menimbulkan minat sasaran
2.        Mencapai sasaran yang lebih banyak
3.        Membantu mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
4.        Merangsang sasaran untuk meneruskan pesan pada orang lain
5.        Memudahkan penyampaian informasi
6.        Memudahkan penerimaan informasi oleh sasaran

D.                Cara Penggunakan Alat Peraga/Alat Bantu
Cara menggunakan alat peraga sangat bergantung pada jenis alatnya. Menggunakan alat peraga gambar sudah tentu berbeda dengan menggunakan film strip dan sebagainya. Disamping itu juga dipertimbangkan faktor sasaran pendidikannya. Untuk masyarakat yang buta huruf akan berbeda dengan masyarakat yang telah berpendidikan. Dan yang lebih penting adalah bahwa alat yang digunakan harus menarik sehingga menimbulkan minat pada pesertanya. Pada waktu menggunakan AVA hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.       Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati.
b.      Tunjukkan perhatian bahwa hal yang akan dibicarakan dipergunakan itu adalah penting.
c.       Pandangan mata hendaknya keseluruh pendengar agar responden tidak kehilangan kontrol pihak pendidik.
d.      Gaya bicara hendaknya bervariasai agar pendengar tidak bosan dan tidak mengantuk.
e.       Ikut sertakan para peserta/pendengar dan berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut.
f.       Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana, dan sebagainya.

E.                 Pengertian Media
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara atau “Pengantar yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu Briggs (1977) berpendapat  bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi. Materi pembelajaran seperti: buku, film, video, dan sebagainya. Sedangkan, National Education Association (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang – dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauaan audience sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri audience.

F.                 Langkah-Langkah Penetapan Media
Langkah-langkah dalam merancang pengembangan media promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1.      Menetapkan Tujuan
Tujuan harus realistis, jelas, dan dapat diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang akan diukur, seberapa banyak perubahan akan diukur, berapa lama dan dimana pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi dan merancang evaluasi
.
2.      Menetapkan Segmentasi Sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan. Tujuannya antara lain memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, memberikan kepuasan pada masing-masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan jangkauan produk, serta menghitung jenis dan penempatan media.
3.      Memposisikan Pesan (Positioning)
Memposisikan pesan adalah proses atau upaya menempatkan suatu produk perusahaan, individu atau apa saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning membentuk citra.
4.      Menentukan Strategi Positioning
Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen, menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi khalayak sasaran, menetukan posisi merk produk sendiri, serta mengikuti perkembangan posisi.
5.      Memilih Media Promosi Kesehatan
Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran. Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas. Setiap media akan memberikan peranan yang berbeda. Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.

G.                Fungsi dan Manfaat Media
Fungsi media pendidikan adalah untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan peserta didik baik dalam benak, mental maupun dalam bentuk aktifitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi.
Menurut “Kemp & Dayton (1985:28)” ada tiga fungsi utama yaitu: memotivasi minat dan tindakan, menyajikan informai dan memberi instruksi. Pada saat ini media pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.       Membantu memudahkan belajar bagi siswa atau mahasiswa dan mengajar seperti guru atau dosen.
b.      Memberikan pemahaman lebih nyata, yang abstrak serta dapat menjadi kongkrit.
c.       Menarik perhatian sisawa atau mahasiswa, jalanya pelajaran tidak membosankan.
d.      Semua indra siswa atau mahasiswa dapat diaktifkan, kelemahan satu indra dapat diimbangi oleh kekuatan indra lainnya.
e.       Lebih menarik perhatian dan minat siswa atau mahasiswa dalam belajar.
f.       Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.
Berdasarkan pendapat oleh beberapa ahli maka Dr.Azhar Arsyad,M.A. menarik kesimpulan dari penggunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar yaitu antara lain:
1.      Memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar
2.      Menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa atau mahasiswa dan lingkungannya dan kemungkinan sisawa atau mahasiswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3.      Dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu.
4.      Memberikan kesamaan pengalaman tentang peristiwa-peristiwa yang dialami siswa atau mahasiswa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinaya interaksi langsung dengan guru atau dosen, masyarakat dan lingkungannya.

H.                Macam-Macam Media
Berdasarkan Jenis
1)      Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seprti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media tidak cocok untuk orang tua atau mempunyai kelainan dengan pendengaran,
2)      Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seprti film setrip (film rangkai), slide (film bingkai), foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.
3)      Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar, media ini di bagi dalam :
a.       Audiovisual diam yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam sepeti film bingkai suara, film rangkai suara, cetak suara.
b.      Audiovisual gerak yaitu media yang dapat menampikkan unsur-unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Pembagian lain dari media ini adalah
1.      Audiovisual murni yaitu ; baik unsur  suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film, video cassette.
2.      Audiovisual tidak murni yaitu yang unsur  suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara dan unsur gambarnya bersumber dari slide proyektor.
Berdasarkan Daya Liput
Dilihat dari daya liputnya, media dibagi dalam :
1)      Media dengan daya liput luas dan serentak, penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak dididk yang banyak dalam waktu yang sama.
2)      Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat, media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus sepeti film, sound slide, dan lain-lain.
3)      Media untuk pengajaran individual, media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri, termasuk media ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
Berdasarkan Bahan Pembuatan
Dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi dalam:
1)      Media sederhana, media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
2)      Media komplek, media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit di peroleh serta mahal harganya, sulit membuatntya, dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.

Berdasarkan Fungsinya
Media Cetak
1.      Booklet. Media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar. Sasaran buklet adalah masyarakat yang dapat membaca.
2.      Leaflet. Bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan yang terdiri dari 200-400 kata dengan tulisan cetak melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat berupa kalimat, gambar, atau kombinasi. Biasanya leaflet diberikan kepada sasaran setalah selesai kuliah atau ceramah agar dapat digunakan sebagai pengingat pesan atau dapat juga diberikan sewaktu ceramah untuk memperkuat pesan yang sedang disampaikan.
3.      Flyer (selebaran), bentuk seperti leaflet, tetapi tidak dilipat.
4.      Flip chart (lembar balik), biasanya dalam bentuk buku (menyerupai kalender), setiap lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya (belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebutLembar balik ini biasanya digunakan untuk pertemuan kelompok dengan jumlah maksimal peserta 30 orang. Flip chart biasanya digunakan untuk pendidikan individu atau kelompok yang lebih kecil (kurang dari 5 orang).
5.      Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
6.      Poster. Bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi kesehatan yang biasanya ditempel didinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum. Biasanya isinya bersifat pemberitahuan dan propaganda. Biasanya isinya bersifat pemberitahuan atau propaganda. Poster sesuai untuk tindak  lanjut dari pesan yang sudah disampaikan pada waktu lalu. Jadi tujuan poster adalah untuk megingatkan kembali dan mengarahkan pembaca kearah  tindakan tertentu atau sebagai bahan diskusi kelompok.
7.      Foto yang mengungkap informasi kesehatan.
Media Elektronik
Jenis-jenis media elektronik yang dapat digunakan sebagai media pendidikan kesehatan, antara lain adalah sebagai berikut :
1)      Televisi. Penyampaian pesan kesehatan melalui media televisi dapat berbentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi, pidato (ceramah), TV sport, dan kuis atau cerdas cermat.
2)      Radio. Bentuk penyampaian informasi diradio dapat berupa obrolan (tanya jawab), konsultasi kesehatan, sandiwara radio, dan radio spot.
3)      Video. Penyampaian informasi kesehatan melalui video.
4)      Slide. Slide dapat juga digunakan untuk menyampaikan informasi-informasi kesehatan.
5)      Film strip. Film strip dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehtan.
Media papan (billboard)
Media papan yang dipasang ditempat-tempat umum dapat diisi pesan-pesan atau informasi kesehatan. Media ini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng dan ditempel di kendaraan umum (bus dan taksi)
Media hiburan
Penyampaian informasi kesehatan dapat dilakukan melalui media hiburan, baik di luar gedung (panggung terbuka) maupun dalam gedung, biasanya dalam  bentuk dongeng, sosio drama, kesenian tradisional, dan pemeran

I.                   Perilaku Kesehatan
Menurut Becker. Konsep perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude) dan praktek kesehatan (health practice). Hal ini berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi unit analisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi tiga dimensi :
1.                  Pengetahuan Kesehatan Pengetahuan tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait. dan atau mempengaruhi kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
2.                  Sikap terhadap kesehatan Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
3.                  Praktek kesehatan Praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular, tindakan terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Selain Becker, terdapat pula beberapa definisi lain mengenai perilaku kesehatan. Menurut Solita, perilaku kesehatan merupakan segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan Cals dan Cobb mengemukakan perilaku kesehatan sebagai: “perilaku untuk mencegah penyakit pada tahap belum menunjukkan gejala (asymptomatic stage)”.
Menurut Skinner perilaku kesehatan (healthy behavior) diartikan sebagai respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan
Perilaku sehat adalah sifat pribadi seperti kepercayaan, motif, nilai, persepsi dan elemen kognitif lainnya yang mendasari tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergiz. Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat.
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup :
1)                  Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit
a.       Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan bergizi, dan olahraga.
b.      Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk mencegah malaria, pemberian imunisasi. Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
c.       Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha mengobati penyakitnya sendiri, pengobatan di fasilitas kesehatan atau pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional.
d.      Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit misalnya melakukan diet, melakukan anjuran dokter selama masa pemulihan.
2)                  Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat – obat.
3)                  Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya., pengelolaan makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.
4)                  Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan.itu sendiri.
Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikan menjadi 3 kelompok:
1.      Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek :
a.        Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b.        Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.
c.        Perilaku gizi (makanan dan minuman).
2.      Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Sering disebut Perilaku Pencarian pengobatan (Heath Seeking Behavior). Adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3.      Perilaku Kesehatan Lingkungan
Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan bagaimana, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Seorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini.
a.       Perilaku hidup sehat
Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatikan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antar lain :
1)      Menu seimbang
2)      Olahraga teratur
3)      Tidak merokok
4)      Tidak minum-minuman keras dan narkoba
5)      Istirahat yang cukup
6)      Mengendalian stress
7)      Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan
b.      Perilaku Sakit
Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya, dsb.
c.       Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Perilaku ini mencakup:
1)      Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2)      Mengenal/mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak.
3)      Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, dan pelayanan kesehatan).

  



BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Media pendidikan kesehatan adalah alat untuk menyampaikan informasi kesehatan dan di gunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien. Secara garis besar alat bantu pendidikan dikelompokan menjadi: alat bantu lihat (visual aids), alat bantu dengar (audio aids), alat bantu lihat dengar (audio visual aids)
Sedangkan Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari maupun tidak.
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat dan saling berkesinambungan, individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.

B.                 Saran
Keterbatasan informasi dan ketelitian kami dalam menyusun makalah ini, menjadi sebab adanya kekurangan-kekurangan yang tidak dapat kami hindari. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari penambahan wawasan bagi kami.







DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Bursa Buku FK-UI

Iqbal Mubarak, Wahit. 2007. Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

Kholid, ahmad. 2014. Promosi kesehatan. Jakarta: rajawali pers

Maulana, Herry.( 2007 ). Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Notoatmodjo, Soekidjo, & Sarwono, Solita. 1985. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta:

Badan Penerbit Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Hlm. 23


No comments:

Post a Comment

STRESS DAN COPING

BAB I PENDAHULUAN    A.    Latar Belakang Sesuatu hal dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun baik, seperti k...