Tuesday, April 24, 2018

STRESS DAN COPING


BAB I
PENDAHULUAN

   A.    Latar Belakang
Sesuatu hal dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun baik, seperti kondisi stress atau peningkatan kesehatan. Pemahamantentang stress dan akibatnya sangatlah penting bagi upaya pengobatan dan pencegahan stress itu sendiri. Setiap orang mengalami sesuatu yang disebutstress sepanjang kehidupannya. Masalah stress sering dihubungkan dengankehidupan modern dan sepertinya kehidupan modern merupakan sumber  bermacam gangguan stress. Para ahli telah banyak meneliti masalah stress,terutama yang bertalian dengan situasi dan kondisi hidup.
Stres dapat memberikan stimulus terhadap perkembang dan pertumbuhan, dan dalam hal ini stress adalah hal positif dan diperlukan. Namun demikian, terlalu banyak stress dapat menimbulkan gangguan-gangguan seperti, penyesuaian yang buruk, penyakit fisik danketidakmampuan untuk mengatasi atau koping terhadap masalah. Sejumlah penelitian yang telah dilakukan menunjukan adanya suatu hubungan antara peristiwa kehidupan yang menegangkan atau penuh stress dengan berbagaikelainan fisikdan psikiatrik (Yatkin & Labban, 1992).
Claude Bernand, tahun 1867, adalah satu dari ahli fisiologi pertamayang mengenali konsekuensi stress. Ia menyatakan perubahan dalamlingkungan internal dan eksternal dapat mengganggu fungsi suatu organnismedan hal ini penting bagi organisme untuk mengadaptasi stressor sehinggaorganisme tersebut dapat bertahan. Walter Cannon, tahun 1920, menyelidikirespons fisiologis terhadap rangsangan emosional dan penekanan fungsiadaptif dari reaksi ³melawan atau lari´ (fight or flight). Cannon jugamenunjukan bahwa respon ini adalah hasil dari penngaruh emosional padatubuh dan bahwa respon selanjutnya adalah adaptif dan fisiologis (Robinson,1990)

   B.     Rumusan Masalah
1          .      Apakah itu konsep stress?
2          .      Apa saja macam-macam stres ?
3          .      Bagaimanakah manifestasi stress?
4          .      Apa saja faktor yang mempengaruhi stress?
5          .      Bagaimana proses keperawatan management stress untuk perawat?
6          .      Apa pengertian coping?
7          .      Apa fungsi dan jenis coping?
8          .      Apa saja strategi dari coping?
9          .      Apa saja faktor dalam aspek sosial budaya coping ?

   C.    Tujuan
1          .      Untuk mengetahui konsep stress
2          .      Untuk mengetahui macam-macam stress
3          .      Untuk mengetahui  manifestasi stress
4          .      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi stress
5          .      Untuk mengetahui proses keperawatan management stress untuk perawat
6          .      Untuk mengetahui pengertian coping
7          .      Untuk mengetahui fungsi dan jenis coping
8          .      Untuk mengetahui trategi dari coping
9          .      Untuk mengetahui faktor dalam aspek sosial budaya coping


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Stress
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami bebanatau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yangdibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugastersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakanini termasuk respons fisiologis dan psikologis. Stress dapat menyebabkan perasaan negative atau yang berlawanandengan apa yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Terjadinya stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang atau lingkuangan (mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).
1.      Pengertian Sterss
Pengertian stress akan berbeda satu dengan lainnya, hal ini bergantung dengan cara pandang seseorang dalam mendefinisikannya. Ada beberapa pengertian yang perlu diketahui mahasiswa yaitu,
a.       Hans Selye,1976
Stress adalah rspon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.
b.      Emanuelsen & Rosenlicht, 1986
Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosionalterhadap tuntutan yang dialami individu yang diiterpretasikansebagai sesuatu yang mengancam keseimbangan
c.       Soeharto Heerdjan, 1987
Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak ataumencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang.
d.      Maramis, 1999
Secara umum, yang dimaksud ³Stres adalah reaksi tubuhterhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan,ketegangan emosi, dan lain-lain´. ³Stres adalah segala masalahatau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yangmengganggu keseimbangan kita´
e.       Vincent Cornelli, sebagai mana dikutip oleh Grant Brecht(2000)
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yangdisebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yangdipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individudi dalam lingkungan tersebut.
f.       Keliat, B.A. , 1999
Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapatdihindari. Stres disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian.
g.      Lazarus & Folkman , 1984
Stres merupakan hubungan antara individu denganlingkungan yang oleh individu dinilai membebani atau melebihikekuatannya dan mengancam kesehatannya.
h.      Spilberger (Handoyo, 2001)
Stress adalah tuntutan eksternal yang mengenai seseorang,misalnya objek-objek dalam lingkungan atau seatu stimulus yangsecara objektif adalah berbahaya

B.     Macam-Macam Stres
1.      Stres ringan : Merusak aspek fisiologis, biasanya di rasakan  oleh setiap orang dan biasanya berakhir dalam beberapa menit/jam.
2.      Stres sedang : Terjadi lebih lama
3.      Stres berat : Stres kronis yang terjadi beberapa minggu atau sampai beberapa tahun. Gejala yang bisa di amati seperti : Rasa cemas yang berlebihan, Marah, Menangis, Tertawa sendiri, Teriak, Memukul dan menyepak,dsb.

C.    Manifestasi Stress
Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang. Seseorang yang mengalami stres dapat mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya, antara lain :
1.      Perubahan warna rambut kusam, ubanan, kerontokan  
2.      Wajah tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sulit tersenyum/tertawa dan kulit muka kedutan (ticfacialis)
3.      Nafas terasa berat dan sesak, timbul asma
4.      Jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit (constriksi) sehingga mukanya nampak merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama ujung-ujung jari juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan.
5.      Lambung mual, kembung, pedih, mules, sembelit atau diare.
6.      Sering berkemih.
7.      Otot sakit seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang pada tulang terasa linu atau kaku bila digerakkan.
8.      Kadar gula meningkat, pada wanita mens tidak teratur dan sakit (dysmenorhea)
9.      Libido menurun atau bisa juga meningkat.
10.  Gangguan makan bisa nafsu makan meningkat atau tidak ada nafsu   makan.
11.  Tidak bisa tidur
12.  Sakit mental-histeris

D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress
Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors. Meskipun stress dapat diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya karyawan mengalami stress karena kombinasi stressors. Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu :
1.      Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan. Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.
2.      Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan organizational leadership.Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.
b.      Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi. Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan lainnya akan dapat menyeba bkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.
c.       Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi.
d.      Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins, 2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada hal pekerjaan saja. Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri adalah muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul yang tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasan-batasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak pasti tapi penting (Robbins, 2001:563).
3.      Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan stress terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang.

E.     Proses Keperawatan Stress Management Stress
Manajemen stress adalah kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran respon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan.Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
1.      Pengaturan Diet dan Nutrisi
Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam mengurangi dan mengatasi stres melalui makan dan minum yang halal dan tidak berlebihan, dengan mengatur jadwal makan secara teratur, menu bervariasi, hindari makan dingin dan monoton karena dapat menurunkan kekebalan tubuh.
2.      Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.
3.      Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.
4.      Berhenti Merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena dapat meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.
5.      Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak mengandung alkohol.
6.      Pengaturan Berat Badan
Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres.
7.      Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. 
8.      Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti depresi.
9.      Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.
10.  Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan lain-lain.
11.  Terapi Psikoreligius
Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi.
12.  Homeostatis
Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan bahwa homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh suatu sistem endokrin dan syaraf otonom. Secara alamiah proses homeostatis dapat terjadi dalam tubuh manusia. Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostatis ini dapat melalui empat cara di antaranya:
a.          Self regulation di mana sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat seperti dalam pengaturan proses sistem fisiologis tubuh manusia.
b.         Berkompensasi yaitu tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan dalam tubuh.
c.          Dengan cara sistem umpan balik negatif, proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal segera dirasakan dan diperbaiki dalam tubuh dimana apabila tubuh dalam keadaan tidak normal akan secara sendiri mengadakan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan dari keadaan yang ada.
d.         Cara umpan balik untuk mengkoreksi suatu ketidakseimbangan fisiologis.

F.     Pengertian Coping
Coping adalah proses yang di lalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stressfull merupakan respon individu terhalang situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologoik. Coping juga biasa disebut juga sebagai pengelolaan stres yaitu suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya mereka gunakan dalam menghadapi situasi stres.

G.    Jenis dan Fungsi Coping
1.      Emotion – focused coping
a.       Digunakan untuk mengatur respons emosional terhadap stres.
b.      Pengaturan ini melalui perilaku individu, seperti pengguna alcohol, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, melaluin strategi kognitif.
c.       Bila individu tidak mampu mengubah kondisi stres, individu akan cenderung mengatur emosinya.
2.      Problem – focused coping
a.       Untuk mengurangi stressor, individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru, individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi.
b.      Metode atau fungsi masalah ini lebih sering digunakan oleh orang dewasa.

H.    Strategi dari Coping
Strategi coping yang berhasil mengatasi stress harus memiliki empat komponen pokok
a.       Peningkatan kesadaran terhadap masalah : fokus objektif yang jelas dan prespektif yang utuh terhadap situasi yang tengah berlangsung.
b.      Pengolahan informasi : sesuatu pendekatan yang mengharuskan anda mengalih presepsi sehingga ancaman dapat di redam .pengolahan informasi juga meliputi pengumpulan informasi dan pengkajian semua sumber daya yan ada untuk memecahkan masalah.
c.       Pengubahan perilaku : tindakan yang dipilih secara sadar, yang dilakukan bersama sikap yang positif dapat meringankan meminimalkan, atau menghilangkan stresor
d.      Resolusi damai : suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil diatasi
Strategi coping adalah cara yang dilakukan untuk merubah lingkungan dan situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang atau dihadapi.
Delapan strategi koping menurut Taylor (1991) adalah sebagai berikut:
1.      Konfrontasi
2.      Mencari dukungan social
3.      Merencanakan pemecahan masalah dikaitan dengan problem focused coping
4.      Kontrol diri
5.      Membuat jarak.
6.      Penilaian kembali secara positif.
7.      Menerima tanggung jawab
8.      Lari/menghindar (escape/avoidance)

I.       Aspek sosial Budaya Coping
1.      Faktor Budaya
Budaya adalah semua perilaku, nilai, keyakinan, adat istiadat, dan cara berpikir suatu populasi yang dipelajari secara sosial, yang memandu cara pandang anggotanya terhadap diri mereka sendri dan dunia.
Budaya memiliki pengaruh yang paling besar pada keyakinan dan praktik kesehatan individu. Budaya terbukti memengaruhi konsep individu tentang penyakit dan sakit.
Budaya klien mendefinisikan apa yang dimaksud dengan tekann bagi seseorang dan cara coping terhadap stress. Konteks budaya membentuk tipe rangsangan ingkungan yang menghasilkan stress. Sebagai contoh budaya yang berbeda menunjukkan transisi perkembangan dari titik balik kehidupan secara berbeda. Strategi coping juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya seseorang. Menurut Aldwin, budaya bervariasi pada strategi coping berfokus emosi, beberapa budaya stress dan emosi harus diwaspadai sedangkan pada budaya lainnya hanya merupakan ekspresi emosi. Coping berfokus masalah merupakan pengontrolan atau penggunaan stress. Budaya yang berbeda mengontrol stress dengan cara yang berbeda juga. Akhirnya, budaya memberikan cara yang berbeda untuk beradaptasi dengan stress. Hal ini termasuk sistem legal untuk penyelesaian konflik, pemberian nasehat atau kelompok pendukung, dan ritual.
Penerapan aspek budaya dalam praktik keperawatan antara lain :
1)      Pahami bahwa stresor dan gaya coping berfariasi pada budaya yang berbeda
2)      Gunakan introspeksi untuk menkaji persepsi dirinya sendiri terhadap sterss dan coping dalam suatu konteks budaya.
3)      Kaji pengaruh budaya pada pengkajian pandangan klien terhadap stress.
4)      Tentukan institusi dalam suatu budaya klien yang memfasilitasi coping.
2.      Aspek Spiritualitas
Spiritualitas mencakup esensi keberadaan individu dan keyakinannya tentang makna dan tujuan hidup. Spiritualitas dapat mencakup keyakinan kepada tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi, praktek keagamaan, keyakinan dan praktek budaya dan hubungan dengan lingkungan. Studi telah menunjukan bahwa spiritualitas merupakan bantuan yang tulus bagi banyak individu dewasa yang stress, yang berperan sebagai media coping utama dan merupakan sumber makan dan koherensi dalam hidup mereka, atau membantu menyediakan jaringan sosial. Beberapa studipun menunjukan bahwa spiritualitas juga bermanfat bagi keluarga yang anggotanya menderita gangguan jiwa : spritualitas berperan penting dalam memberi dukungan kepada pemberi perawatan dan merupakan sumber utama hiburan.
Menurut Nelson (1989) menemukan bahwa orientasi keagamaan bermanfaat sebagai mekanisme coping dan sumber dukungan sosial untuk lansia yang mengalami depresi. Karena keyakinan dan praktik agama membantu banyak klien melakukan coping terhadap stres dan penyakit, perawat harus sangat peka terhadap keyakinan dan praktik spiritual klien serta menerimanya. Menggabungkan praktik tersebut kedalam perawatan klien dapat membantu klien melakukan coping terhadap penyakit dan menemukan makna serta tujuan dalam situasi tersebut dan dapat menawaran sumber dukungan yang kuat
3.      Jaringan Sosial dan Dukungan sosial
Jaringan sosial merupakan kelompok individu yang dikenal oleh seseorang dan orang itu merasa memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Studi menemukan bahwa memiliki jaringan sosial dapat membantu mengurangi stress dan menghilangkan penyakit dan dapat memiliki pengaruh positif yang kuat pada kemampuan individu melakukan coping serta beradaptasi.
Dukungan sosial merupakan dukungan emosional yang berasal dari teman, anggota keluarga, bahkan pemberi perawatan kesehatan yang membantu individu ketika suatu masalah muncul. Dukungan sosial berbeda dari kontak sosial, yang tidak selalu memberi dukungan emosional. Kontak sosial dapat berupa perbincangan antar teman maupun antar anggota keluarga.
Individu yang mendapat dukungan emosional dan fungsional terbukti lebih sehat daripada individu yang tidak mendapat dukungan. Hubungan sosial yang bermakna dengan keluarga atau teman terbukti memperbaiki hasil akhir kesehatan dan kesejahteraan pada individu dewasa lanjut.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sterss merupakan suatu kondisi ketika individu berespon terhadap perubahan dalam status keseimbangan normal, keberhasilan seseorang menghadapi atau menangani masalah dan situasi disebut coping. Dan cara berespon bawaan atau dapatan terhadap perubahan disebut strategi coping ( mekanisme coping). Strategi coping berfariasi diantara individu dan seringkali berhubungan dengan presepsi individu terhadap kejaidian yang menimbulkan stress. Efektifitas coping individu dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk aspek sosial budaya.

B.     Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya kita sebagai perawat dapat memahami tentang Stress dan Coping  dalam rangka memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat , dan dengan promosi kesehatan yaitu melalui penyuluhan kesehatan atau pendidikan kesehatan kita sebagai bidan dapat mencegah berbagai stress dan coping pada masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Fundamental Keperawatan Perry and Potter. Alih Bahasa oleh Yasmin Asihdkk. 2005. Jakarta : EGC

Maramis, Willy F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya. Airlangga UniversitiPress

Hidayat, A Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan edisi 2. Jakarta :Salemba Medika

Hawari, Dadang.2008. Manajemen Stress, Cemas dan Depresi. Jakarkat : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Krohne, H.W . 2002.Stress and Coping theories. Germany : Jonannes Gutenberg-Universitas Maitz Germany







No comments:

Post a Comment

STRESS DAN COPING

BAB I PENDAHULUAN    A.    Latar Belakang Sesuatu hal dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun baik, seperti k...