BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesuatu hal
dapat terjadi pada setiap orang, baik hal yang buruk ataupun baik, seperti
kondisi stress atau peningkatan kesehatan. Pemahamantentang stress dan akibatnya sangatlah penting bagi upaya pengobatan
dan pencegahan stress itu sendiri. Setiap orang mengalami sesuatu
yang disebutstress sepanjang kehidupannya. Masalah stress sering dihubungkan
dengankehidupan modern dan sepertinya
kehidupan modern merupakan sumber bermacam gangguan stress.
Para ahli telah banyak meneliti masalah stress,terutama yang bertalian dengan situasi dan kondisi hidup.
Stres dapat
memberikan stimulus terhadap perkembang dan pertumbuhan, dan dalam hal ini
stress adalah hal positif dan diperlukan. Namun demikian, terlalu banyak
stress dapat menimbulkan gangguan-gangguan seperti, penyesuaian yang buruk,
penyakit fisik danketidakmampuan untuk mengatasi atau koping terhadap masalah.
Sejumlah penelitian yang telah dilakukan menunjukan adanya suatu hubungan
antara peristiwa kehidupan yang menegangkan atau penuh stress dengan
berbagaikelainan fisikdan psikiatrik (Yatkin & Labban, 1992).
Claude
Bernand, tahun 1867, adalah satu dari ahli fisiologi pertamayang mengenali konsekuensi stress. Ia menyatakan
perubahan dalamlingkungan internal dan eksternal dapat mengganggu fungsi
suatu organnismedan hal ini penting bagi organisme untuk mengadaptasi stressor
sehinggaorganisme tersebut dapat bertahan. Walter Cannon, tahun 1920,
menyelidikirespons fisiologis terhadap rangsangan emosional dan penekanan fungsiadaptif
dari reaksi ³melawan atau lari´ (fight or flight). Cannon jugamenunjukan bahwa
respon ini adalah hasil dari penngaruh emosional padatubuh dan bahwa respon
selanjutnya adalah adaptif dan fisiologis (Robinson,1990)
B. Rumusan Masalah
1 .
Apakah itu konsep stress?
2 .
Apa saja macam-macam stres ?
3 .
Bagaimanakah manifestasi stress?
4 .
Apa saja faktor yang mempengaruhi
stress?
5 .
Bagaimana proses keperawatan
management stress untuk perawat?
6 .
Apa pengertian
coping?
7 .
Apa fungsi dan
jenis coping?
8 .
Apa saja
strategi dari coping?
9 .
Apa saja faktor
dalam aspek sosial budaya coping ?
C. Tujuan
1 .
Untuk mengetahui
konsep stress
2 .
Untuk mengetahui macam-macam
stress
3 .
Untuk mengetahui manifestasi stress
4 .
Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi stress
5 .
Untuk mengetahui proses
keperawatan management stress untuk perawat
6 .
Untuk mengetahui pengertian
coping
7 .
Untuk mengetahui fungsi dan
jenis coping
8 .
Untuk mengetahui trategi dari
coping
9 .
Untuk mengetahui faktor dalam
aspek sosial budaya coping
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Stress
Stress
menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik
terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian
tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami bebanatau tugas
yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yangdibebankan
itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugastersebut,
sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakanini
termasuk respons fisiologis dan psikologis. Stress dapat menyebabkan perasaan
negative atau yang berlawanandengan apa yang diinginkan atau mengancam
kesejahteraan emosional. Stress dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap
realitas, menyelesaikan masalah, berfikir
secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Terjadinya stress
dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor ialah stimuli
yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat
diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal berasal dari dalam diri
seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor eksternal
berasal dari luar diri seseorang atau lingkuangan
(mis. Kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).
1.
Pengertian Sterss
Pengertian
stress akan berbeda satu dengan lainnya, hal ini bergantung dengan cara
pandang seseorang dalam mendefinisikannya. Ada beberapa pengertian yang
perlu diketahui mahasiswa yaitu,
a.
Hans Selye,1976
Stress
adalah rspon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan
beban atasnya.
b.
Emanuelsen & Rosenlicht, 1986
Stress
didefinisikan sebagai respon fisik dan emosionalterhadap tuntutan yang dialami
individu yang diiterpretasikansebagai
sesuatu yang mengancam keseimbangan
c.
Soeharto
Heerdjan, 1987
Stres adalah
suatu kekuatan yang mendesak ataumencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan
dalam diri seseorang.
d.
Maramis, 1999
Secara umum,
yang dimaksud ³Stres adalah reaksi tubuhterhadap situasi yang menimbulkan
tekanan, perubahan,ketegangan emosi, dan lain-lain´. ³Stres adalah segala
masalahatau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yangmengganggu
keseimbangan kita´
e.
Vincent Cornelli, sebagai mana dikutip
oleh Grant Brecht(2000)
Stres adalah
gangguan pada tubuh dan pikiran yangdisebabkan oleh perubahan dan tuntutan
kehidupan, yangdipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individudi dalam lingkungan tersebut.
f.
Keliat, B.A. , 1999
Stress
adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapatdihindari. Stres
disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian.
g.
Lazarus & Folkman , 1984
Stres
merupakan hubungan antara individu denganlingkungan yang oleh individu dinilai
membebani atau melebihikekuatannya dan
mengancam kesehatannya.
h.
Spilberger (Handoyo, 2001)
Stress
adalah tuntutan eksternal yang mengenai seseorang,misalnya objek-objek dalam
lingkungan atau seatu stimulus yangsecara objektif adalah berbahaya
B.
Macam-Macam
Stres
1.
Stres ringan : Merusak aspek
fisiologis, biasanya di rasakan oleh setiap orang dan biasanya berakhir
dalam beberapa menit/jam.
2.
Stres sedang : Terjadi lebih lama
3.
Stres berat : Stres kronis yang
terjadi beberapa minggu atau sampai beberapa tahun. Gejala yang bisa di amati
seperti : Rasa cemas yang berlebihan, Marah, Menangis, Tertawa sendiri, Teriak,
Memukul dan menyepak,dsb.
C.
Manifestasi
Stress
Stres
sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya, tetapi
cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik
individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang. Seseorang yang
mengalami stres dapat mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya,
antara lain :
1.
Perubahan warna rambut kusam,
ubanan, kerontokan
2.
Wajah tegang, dahi berkerut, mimik
nampak serius, tidak santai, bicara berat, sulit tersenyum/tertawa dan kulit
muka kedutan (ticfacialis)
3.
Nafas terasa berat dan sesak, timbul
asma
4.
Jantung berdebar-debar, pembuluh
darah melebar atau menyempit (constriksi) sehingga mukanya nampak merah atau
pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama ujung-ujung jari juga menyempit
sehingga terasa dingin dan kesemutan.
5.
Lambung mual, kembung, pedih, mules,
sembelit atau diare.
6.
Sering berkemih.
7.
Otot sakit seperti ditusuk-tusuk,
pegal dan tegang pada tulang terasa linu atau kaku bila digerakkan.
8.
Kadar gula meningkat, pada wanita
mens tidak teratur dan sakit (dysmenorhea)
9.
Libido menurun atau bisa juga
meningkat.
10. Gangguan
makan bisa nafsu makan meningkat atau tidak ada nafsu makan.
11. Tidak bisa
tidur
12. Sakit
mental-histeris
D.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Stress
Kondisi-kondisi
yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors. Meskipun stress dapat
diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya karyawan mengalami stress
karena kombinasi stressors. Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber
utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu :
1.
Faktor Lingkungan
Keadaan
lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan
struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan. Dalam faktor lingkungan
terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi,
politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian
terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena
stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat.
Perubahan yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan
pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan
dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya teknologi yang
digunakannya.
2.
Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa
faktor yang dapat menimbulkan stress yaitu role demands, interpersonal demands,
organizational structure dan organizational leadership.Pengertian dari
masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Role Demands
Peraturan
dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi akan
mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir yang ingin
dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.
b.
Interpersonal Demands
Mendefinisikan
tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi. Hubungan
komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan lainnya akan
dapat menyeba bkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan
dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan
menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan
karyawan lainnya.
c.
Organizational Structure
Mendefinisikan
tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut dibuat dan jika
terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka
akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi.
d.
Organizational Leadership
Berkaitan
dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu organisasi.
Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins, 2001:316) dibagi
dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan pada
hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan karyawannya serta
karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada hal
pekerjaan saja. Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam
mengukur tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri
adalah muncul dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul
yang tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan,
batasan-batasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan
dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak
pasti tapi penting (Robbins, 2001:563).
3.
Faktor Individu
Pada
dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah
ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan pribadi
antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada pekerjaan yang
akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang.
Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat
menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta dapat
menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi dari
keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan stress terletak pada watak
dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu, gejala
stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar dalam
kepribadian seseorang.
E.
Proses
Keperawatan Stress Management Stress
Manajemen
stress adalah kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau
intervasi atau mengubah pertukaran respon terhadap penyakit. Fokusnya
tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan
pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan
pada beberapa daerah perawatan.Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak
sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
1.
Pengaturan Diet dan Nutrisi
Pengaturan
diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam mengurangi dan mengatasi
stres melalui makan dan minum yang halal dan tidak berlebihan, dengan mengatur
jadwal makan secara teratur, menu bervariasi, hindari makan dingin dan monoton
karena dapat menurunkan kekebalan tubuh.
2.
Istirahat dan Tidur
Istirahat
dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena dengan
istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang cukup
akan memberikan kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.
3.
Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga
dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan dan
kekebalan fisik maupun mental. Olah raga dapat dilakukan dengan cara jalan
pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan tidak perlu lama-lama yang
penting menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk
memulihkan kebugaran.
4.
Berhenti Merokok
Berhenti
merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena dapat meningkatkan
ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.
5.
Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Minuman
keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya stres.
Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan
semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak
mengandung alkohol.
6.
Pengaturan Berat Badan
Peningkatan
berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya stres karena
mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang seimbang
akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres.
7.
Pengaturan Waktu
Pengaturan
waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan
pengaturan waktu segala pekerjaaan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat
dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu
secara efektif dan efisien serta melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti
menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu
tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
8.
Terapi Psikofarmaka
Terapi ini
dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami dengan cara
memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor
psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau
psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang
digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti depresi.
9.
Terapi Somatik
Terapi ini
hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga
diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.
10. Psikoterapi
Terapi ini
dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan
seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi
redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar
pasien mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan
memberikan pendidikan secara berulang. Selain itu ada psikoterapi
rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan lain-lain.
11. Terapi
Psikoreligius
Terapi ini
dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis
mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis mengingat dalam mengatasi atau
mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial,
dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi.
12. Homeostatis
Merupakan
suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi
yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami
stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme
pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan
bahwa homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus untuk
memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis
yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh suatu sistem endokrin
dan syaraf otonom. Secara alamiah proses homeostatis dapat terjadi dalam tubuh
manusia. Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostatis ini dapat
melalui empat cara di antaranya:
a.
Self regulation di mana sistem ini
terjadi secara otomatis pada orang yang sehat seperti dalam pengaturan proses sistem
fisiologis tubuh manusia.
b.
Berkompensasi yaitu tubuh akan
cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan dalam tubuh.
c.
Dengan cara sistem umpan balik
negatif, proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal segera dirasakan
dan diperbaiki dalam tubuh dimana apabila tubuh dalam keadaan tidak normal akan
secara sendiri mengadakan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan dari
keadaan yang ada.
d.
Cara umpan balik untuk mengkoreksi
suatu ketidakseimbangan fisiologis.
F.
Pengertian Coping
Coping
adalah proses yang di lalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi
stressfull merupakan respon individu terhalang situasi yang mengancam dirinya
baik fisik maupun psikologoik. Coping juga biasa disebut juga sebagai
pengelolaan stres yaitu suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola
jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik yang berasal dari individu maupun
tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya mereka gunakan
dalam menghadapi situasi stres.
G.
Jenis dan Fungsi Coping
1.
Emotion – focused coping
a.
Digunakan untuk mengatur respons
emosional terhadap stres.
b.
Pengaturan ini melalui perilaku
individu, seperti pengguna alcohol, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak
menyenangkan, melaluin strategi kognitif.
c.
Bila individu tidak mampu mengubah
kondisi stres, individu akan cenderung mengatur emosinya.
2.
Problem – focused coping
a.
Untuk mengurangi stressor, individu
akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang
baru, individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila dirinya yakin akan
dapat mengubah situasi.
b.
Metode atau fungsi masalah ini lebih
sering digunakan oleh orang dewasa.
H.
Strategi dari Coping
Strategi coping yang berhasil mengatasi stress
harus memiliki empat komponen pokok
a.
Peningkatan kesadaran terhadap
masalah : fokus objektif yang jelas dan prespektif yang utuh terhadap situasi
yang tengah berlangsung.
b.
Pengolahan informasi : sesuatu
pendekatan yang mengharuskan anda mengalih presepsi sehingga ancaman dapat di
redam .pengolahan informasi juga meliputi pengumpulan informasi dan pengkajian
semua sumber daya yan ada untuk memecahkan masalah.
c.
Pengubahan perilaku : tindakan
yang dipilih secara sadar, yang dilakukan bersama sikap yang positif dapat
meringankan meminimalkan, atau menghilangkan stresor
d.
Resolusi damai : suatu
perasaan bahwa situasi telah berhasil diatasi
Strategi
coping adalah cara yang dilakukan untuk merubah lingkungan dan situasi atau
menyelesaikan masalah yang sedang atau dihadapi.
Delapan
strategi koping menurut Taylor (1991) adalah sebagai berikut:
1.
Konfrontasi
2.
Mencari dukungan social
3.
Merencanakan pemecahan masalah
dikaitan dengan problem focused coping
4.
Kontrol diri
5.
Membuat jarak.
6.
Penilaian kembali secara positif.
7.
Menerima tanggung jawab
8.
Lari/menghindar (escape/avoidance)
I.
Aspek sosial Budaya Coping
1.
Faktor Budaya
Budaya adalah semua perilaku, nilai, keyakinan, adat istiadat, dan cara berpikir
suatu populasi yang dipelajari secara sosial, yang memandu cara pandang
anggotanya terhadap diri mereka sendri dan dunia.
Budaya memiliki pengaruh yang paling besar pada keyakinan dan praktik
kesehatan individu. Budaya terbukti memengaruhi konsep individu tentang
penyakit dan sakit.
Budaya klien mendefinisikan apa yang dimaksud dengan tekann bagi seseorang
dan cara coping terhadap stress. Konteks budaya membentuk tipe rangsangan
ingkungan yang menghasilkan stress. Sebagai contoh budaya yang berbeda
menunjukkan transisi perkembangan dari titik balik kehidupan secara berbeda.
Strategi coping juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya seseorang. Menurut
Aldwin, budaya bervariasi pada strategi coping berfokus emosi, beberapa budaya
stress dan emosi harus diwaspadai sedangkan pada budaya lainnya hanya merupakan
ekspresi emosi. Coping berfokus masalah merupakan pengontrolan atau penggunaan
stress. Budaya yang berbeda mengontrol stress dengan cara yang berbeda juga.
Akhirnya, budaya memberikan cara yang berbeda untuk beradaptasi dengan stress.
Hal ini termasuk sistem legal untuk penyelesaian konflik, pemberian nasehat
atau kelompok pendukung, dan ritual.
Penerapan aspek budaya dalam praktik keperawatan antara lain :
1)
Pahami bahwa stresor dan gaya
coping berfariasi pada budaya yang berbeda
2)
Gunakan introspeksi untuk
menkaji persepsi dirinya sendiri terhadap sterss dan coping dalam suatu konteks
budaya.
3)
Kaji pengaruh budaya pada
pengkajian pandangan klien terhadap stress.
4)
Tentukan institusi dalam suatu
budaya klien yang memfasilitasi coping.
2.
Aspek Spiritualitas
Spiritualitas mencakup esensi keberadaan individu dan keyakinannya tentang
makna dan tujuan hidup. Spiritualitas dapat mencakup keyakinan kepada tuhan
atau kekuatan yang lebih tinggi, praktek keagamaan, keyakinan dan praktek
budaya dan hubungan dengan lingkungan. Studi telah menunjukan bahwa
spiritualitas merupakan bantuan yang tulus bagi banyak individu dewasa yang
stress, yang berperan sebagai media coping utama dan merupakan sumber makan dan
koherensi dalam hidup mereka, atau membantu menyediakan jaringan sosial.
Beberapa studipun menunjukan bahwa spiritualitas juga bermanfat bagi keluarga
yang anggotanya menderita gangguan jiwa : spritualitas berperan penting dalam
memberi dukungan kepada pemberi perawatan dan merupakan sumber utama hiburan.
Menurut Nelson (1989) menemukan bahwa orientasi keagamaan bermanfaat
sebagai mekanisme coping dan sumber dukungan sosial untuk lansia yang mengalami
depresi. Karena keyakinan dan praktik agama membantu banyak klien melakukan
coping terhadap stres dan penyakit, perawat harus sangat peka terhadap
keyakinan dan praktik spiritual klien serta menerimanya. Menggabungkan praktik
tersebut kedalam perawatan klien dapat membantu klien melakukan coping terhadap
penyakit dan menemukan makna serta tujuan dalam situasi tersebut dan dapat
menawaran sumber dukungan yang kuat
3.
Jaringan Sosial dan Dukungan
sosial
Jaringan sosial merupakan kelompok individu yang dikenal oleh seseorang dan
orang itu merasa memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Studi menemukan
bahwa memiliki jaringan sosial dapat membantu mengurangi stress dan
menghilangkan penyakit dan dapat memiliki pengaruh positif yang kuat pada
kemampuan individu melakukan coping serta beradaptasi.
Dukungan sosial merupakan dukungan emosional yang berasal dari teman,
anggota keluarga, bahkan pemberi perawatan kesehatan yang membantu individu
ketika suatu masalah muncul. Dukungan sosial berbeda dari kontak sosial, yang
tidak selalu memberi dukungan emosional. Kontak sosial dapat berupa
perbincangan antar teman maupun antar anggota keluarga.
Individu yang mendapat dukungan emosional dan fungsional terbukti lebih
sehat daripada individu yang tidak mendapat dukungan. Hubungan sosial yang
bermakna dengan keluarga atau teman terbukti memperbaiki hasil akhir kesehatan
dan kesejahteraan pada individu dewasa lanjut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sterss merupakan suatu kondisi ketika individu berespon terhadap perubahan dalam
status keseimbangan normal, keberhasilan seseorang menghadapi atau menangani
masalah dan situasi disebut coping. Dan cara berespon bawaan atau dapatan
terhadap perubahan disebut strategi coping ( mekanisme coping). Strategi coping
berfariasi diantara individu dan seringkali berhubungan dengan presepsi
individu terhadap kejaidian yang menimbulkan stress. Efektifitas coping
individu dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk aspek sosial budaya.
B.
Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini
pembaca khususnya kita sebagai perawat dapat memahami tentang Stress dan Coping
dalam rangka memajukan kesehatan
masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat , dan dengan promosi
kesehatan yaitu melalui penyuluhan kesehatan atau pendidikan kesehatan kita
sebagai bidan dapat mencegah berbagai stress dan coping pada masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Ajar
Fundamental Keperawatan Perry and Potter. Alih Bahasa oleh Yasmin Asihdkk. 2005. Jakarta : EGC
Maramis,
Willy F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya. Airlangga UniversitiPress
Hidayat, A
Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan edisi 2. Jakarta :Salemba
Medika
Hawari,
Dadang.2008. Manajemen Stress, Cemas dan Depresi. Jakarkat : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Krohne, H.W
. 2002.Stress and Coping theories. Germany
: Jonannes Gutenberg-Universitas Maitz Germany
No comments:
Post a Comment