BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kesehatan masyarakat merupakan salah
satu modal pokok dalam rangka pertumbuhan dan kehidupan bangsa. Untuk
mewujudkan hal ini secara optimal diselenggarakan upaya kesehatan.
Sebelum kita membahas tentang teori Kesehatan
masyarakat maka sebaiknya kita membahas sejarah perkembangan kesehatan
masyarakat. Karena perkembangan
Promosi Keseharan tidak terlepas dari perkembangan Kesehatan Masyarakat
khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dipahami karena Visi Promosi
Kesehatan yang tertuang dalam berbagai konvensi Internasional Promosi
Kesehatan, mulai dari Konferensi Promosi Kesehatan pertama di Ottawa, Canada
Tahun 1986 yang menerbitkan ’The Otawa Charter’. Konferensi kedua di Adelaide,
Australia tahun 1988 yang mengeluarkan ”Adelaide Recommendation”.
Konferensi Ketiga di Sundsvall, Swedia tahun 1991 dan Konferensi
yang terakhir atau keempat di Jakarta tahun 1997 dengan menerbitkan ’The
Jakarta Declaration’ adalah merubah ’lingkungan yang memepengaruhi kesehatan’ yang
tertuang dalam ’The Five Ottawa Charter Strategies’ diantaranya adalah ’built
healthy public policy, create supportive enviroment, dan strengthen community
action’ (The Jakarta Declaration, 1997).
Konsep kesehatan masyarakat visi terbesarnya
yang dapat merubah sistem atau yang besar pengaruhnya dalam mempengaruhi
kesehatan adalah faktor lingkungan diantara faktor-faktor prilaku, pelayanan
kesehatan dan faktor hereditas (Blum, dalam Gani, 2000).
Maksud dari uaraian diatas bahwa
paradigma atau pola pikir Kesehatan Masyarakat maupun Promosi Kesehatan adalah
sama yaitu merubah lingkungan atau sistem tatanan kesehatan secara komprehensif
atau holistik (menyeluruh). Dengan kata lain peran Promosi Kesehatan
dalam kesehatan adalah mengintervensi berbagai faktor derajat kesehatan dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya (Notoatmodjo, 2005). Untuk itu wajarlah bila
kita membahas sedikit mengenai perkembangan kesehatan masyarakat.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia ?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Perkembahangan Kesehatan Masyarakat di Indonesia.
1.
Masa
Pra Kemerdekaan.
Pada tahun 1807 Gubernur Jendral
Daendels melakukan pelatihan praktik persalinan pada para dukun bayi. Pada
tahun 1851 didirikan sekolah dokter Jawa di Batavia yaitu STOVIA. Tahun 1888 di
Bandung didirikan Pusat Laboratorium Kedokteran yang selanjutnya menjadi
Lembaga Eykman sekarang. Pada Tahun 1913 didirikan Sekolah Dokter Belanda yaitu
NIAS di Surabaya. Tahun 1922 terjadi wabah Pes, sehingga tahun 1933-1935
diadakan pemberantasan Pes dengan DDT dan vaksinasi massal.
Hasil penyelidikan Hydric, petugas kesehatan
pemerintah waktu itu, penyebab kesakitan dan kematian yang terjadi di Banyumas adalah
kondisi sanitasi, lingkungan dan perilaku penduduk yang sangat buruk.
Hydric kemudian mengembangankan percontohan dan propaganda kesehatan.
2.
Masa
Era Kemerdekaan.
a. Pra Reformasi.
1) Masa Orde Lama
Pada tahun 1951 konsep bandung Plan
diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yaitu konsep pelayanan yang
menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif. Tahun 1956 didirikanlah
proyek Bekasi oleh dr. Y. Sulianti di Lemah Abang, yaitu model pelayanan
kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga. Kemudian didirikan Health Centre
(HC) di 8 lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut), Bojong Loa (Jabar), Salaman
(Jateng), Mojosari (Jatim), Kesiman (Bali), Metro (Lampung), DIY dan Kalimatan
Selatan. Pada tanggal 12 November 1962 Presiden Soekarno mencanangkan program
pemberantasan malaria dan pada tanggal tersebut menjadi Hari Kesehatan Nasional
(HKN).
2) Masa Orde Baru.
Konsep Bandung Plan terus dikembangkan,
tahun 1967 diadakan seminar konsep Puskesmas. Pada tahun 1968
konsep Puskesmas ditetapkan dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional dengan
disepakatinya bentuk Puskesmas yaitu Tipe A, B & C. Kegiatan Puskesmas saat
itu dikenal dengan istilah ’Basic’. Ada Basic 7, Basic 13 Health Service yaitu
: KIA, KB, Gizi Mas., Kesling, P3M, PKM, BP, PHN, UKS, UHG, UKJ, Lab,
Pencatatan dan Pelaporan. Pada tahun 1969, Tipe Puskesmas menjadi A & B.
Pada tahun 1977 Indonesia ikut menandatangi kesepakatan Visi : ”Health For All
By The Year 2000”, di Alma Ata, negara bekas Federasi Uni Soviet, pengembangan
dari konsep ” Primary Health Care”. Tahun 1979 Puskesmas tidak ada pen’Tipe’an,
dan dikembangkan piranti manajerial Perencanaan dan penilaian Puskesmas yaitu ’
Micro Planning’ dan Stratifikasi Puskesmas. Pada tahun 1984 dikembangkan
Posyandu, yaitu pemngembangan dari pos penimbangan dan karang gizi. Posyandu
dengan 5 programnya yaitu, KIA, KB, Gizi, Penangulangan Diare dan
Imunisasi dengan 5 Mejanya (Notoadmodjo, 2005). Pada waktu-waktu selanjutnya
Posyandu bukan saja untuk pelayanan Balita tetpai juga untuk pelayanan ibu
hamil. Bahkanpada waktu-waktu tertentu untuk promosi dan distribusi Vit.A, Fe,
Garam Yodium, dan suplemen gizi lainnya. Bahkan Posyandun saat ini juga
menjadi andalah kegiatan penggerakan masyarakat (mobilisasi sosial) seperti
PIN, Campak, Vit A, dsb.
b. Reformasi.
Waktu
terus bergulir, tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi. Kemiskinan
meningkat, kemampuan daya beli masyarakat rendah, menyebabkan akses ke
pelayanan kesehatan renda, kemudian dikembangkan program kesehatan untuk
masyarakat miskin yaitu, JPS-BK. Tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi
berbagai bidang termasuk pemerintahan dan menjadi negara dermokrasi. Tahun 2001
otonomi daerah mulai dilaksanakan, sehingga dilapangan program-prorgam
kesehatan bernunasa desentralisasi dan sebagai konsekuensi negara demokrasi,
program-program kesehatan juga banyak yang bernuasa ’politis’. Tahun 2003
JPS-BK kemudian penjadi PKPS-BBM Bidang Kesehatan, tahun 2005 berubah lagi
menjadi Askeskin. Pada saat itu juga dikembangkan Visi Indonesia Sehat Tahun
2010 dengan Paradigma Sehat. Puskesmas dan Posyandu masih tetap eksis, bahkan
Posyandu menjadi andalan ujung tombak ’mobilisasai sosial’ bidang kesehatan.
Dalam era otonomi dan demokrasi menuntut akutanbilitas dan kemitraan, sehingga
berkembang LSM-LSM baik bidang kesehatan, maupun bukan untuk menuntut
akutanbilitas tersebut dalam berbagai bentuk partisipasi. Sebagai
’partnersship’ LSM-LSM tersebut program kesehatan yang bertanggung jawab adalah
Promosi Kesehatan. Promosi Kesehatan harus menjadi ujung tombak mewakili program
kesehatan secara keseluruhan, baik sebagai pemasaran-sosial Visi Indonesia
Sehat 2010 untuk merubah paradigma (Paradigma Sehat)petugas kesehatan dan
masyarakat. Tugas lain promosi kesehatan melakukan advokasi, komunikasi
kesehatan dan mobilisasi sosial, baik kepada pihak legislatif, eksekutif
maupun masyarakat itu sendiri. Terutama melalui kemitraan dengan LSM-LSM
tersebut. Dengan kata lain pada era otonomi/desentralisasi saat ini sektor
kesehatan harus diperjuangkan juga secara politik karena sebenarnya saat ini
bidang kesehatan disebut juga sebagai era ’Political Health’, maka peranan
promosi kesehatan sangat menonjol dalam ikut mengakomodasi upaya tersebut
dengan berbagai strategi.
Era Perkembangan Kesehatan Masyarakat
|
Unsur
Pengembangan
|
Empirical
Health Era
< 1850
|
Basic Science Era
(1850-1900)
|
Clinical Science Era (1900-1950)
|
Public Health Science Era
(1950-1900)
|
Political Science Era > 1900
|
|
Titik
Berat Pelayanan
|
Gejala-Gejala
Penyakit
|
Bakteri
& Penyakit
|
Pasien
(Penderita)
|
Masyarakat/
penduduk
|
Masyarakat
dan Lingkungan Kesehatan
|
|
Cara Penyelanggaraan Pendidikan
|
Mengikuti
petunjuk secara mutlak dari pengajar
|
Diagnosa
Laboratorim
|
Polikinilk/
Balai Pengobatan sebagai tempat praktik
|
Kelinik
& balai Kesehatan Masyarakat dan masyakrakjat sebagai tempat praktik
|
RS
Pendidikan dan daerah lokasi praktik
|
|
Penelitian
dan Pengembangan
|
Pengalaman
Empiris (historical)
|
Pengembangan
Laboratorim
|
Pengembangan
Iptek Kedokteran
|
Pengembangan
masyarakat dan dengan pengembangan tolok ukur dan kreteria-kreteria
|
Selain
pengembangan Iptek Kedokteran dan masy, juga dikembangankan bidang ilmu yang
lain seperti ekonomi, sosial dan politik.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan
kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai dari :
1.
Masa Pra Kemerdekaan.
Pada tahun 1807 Gubernur Jendral Daendels melakukan pelatihan
praktik persalinan pada para dukun bayi. Pada tahun 1851 didirikan sekolah
dokter Jawa di Batavia yaitu STOVIA.
2.
Masa Era Kemerdekaan
a.
Pra Reformasi.
1) Masa Orde Lama
Pada tahun 1951 konsep bandung Plan
diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yaitu konsep pelayanan yang
menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif..
2) Masa Orde Baru.
Konsep Bandung Plan terus dikembangkan,
tahun 1967 diadakan seminar konsep Puskesmas. Pada tahun 1968
konsep Puskesmas ditetapkan dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional dengan
disepakatinya bentuk Puskesmas yaitu Tipe A, B & C. Kegiatan Puskesmas saat
itu dikenal dengan istilah ’Basic’.
b.
Reformasi.
B.
Saran
Makalah
ini semoga berguna bagi pembaca khususnya bagi mahasiswa. Penulis memberikan
saran agar dalam ilmu kesehatan maupun ilmu alam lainnya penting untuk
dipahami, diharapkan bagi setiap mahasiswa agar lebih banyak membaca dan
mencari tahu sehingga mahasiswa mampu memahami tentang pentingnya perkembangan
kesehatan masyarakat di indonesia, serta ilmu-ilmu kesehatan lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Kumpulan
Materi Kesehatan Masyarakat Bahan Bacaan Jurusan Kebidanan Politeknik Makasar
Entjang,
Indah , 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Bandung : Citra Aditya Bakti
No comments:
Post a Comment